Kalau kita sekelas mungkin ku takkan malas
Meski tetap saja ku tak pernah rajin belajar
Tapi Sungguh itu bukan karena ku pintar
Sungguh, aku ingin selalu dekatmu sedekat sebangku
Berbagi kisah merangkum bahagia di lembar yang sama
Kalau kita sekelas mungkin ku takkan malas
Meski tetap saja ku tak pernah rajin belajar
Tapi Sungguh itu bukan karena ku pintar
Sungguh, aku ingin selalu dekatmu sedekat sebangku
Berbagi kisah merangkum bahagia di lembar yang sama

Darkness came to me like a rain
Like a falling into endless pain
’till i found You and Your light
Save me out from this darkest night…
Aku tersesat dalam tubuhku sendiri
Kemana lagi kan kucari hati ini
Tempatku menuliskan namamu,
Yang ajariku kembali bermimpi
Saya lihat senyumnya sekali
Setelah itu bulan sabit sinari malamnya hati
Bila saya lihat matanya
Mungkin purnama kan terangi hati ini bercahaya
Tapi saya tak ingin menyakitinya
Meski hanya dengan keinginan tuk memilikinya
…
Aku pinjam bukumu
Putri | Desember 2006
Aku pinjam bukumu, juga senja
yang tertera di akhir halamannya
Bila kau berkenan, kan kupinjam malammu
agar kutenang membaca lalu menyambutmu juga shubuh,
kedamaian yang tak kurindu.
Sendiri ini selalu sepi sampai pagi
tapi beruntung ku temukanmu malam ini
Kita terpisah jarak mengangah,
tapi hangatmu pagi
hadir tanpa harus kumencari
makna di butir cahaya, juga kata
membawaku kian larut di larut malam.
Malam ini kusendiri
purnama hianati, bintang-bintang sulit ku memilih
Di hati ini kau nyaris bermalam
tapi belum terlalu malam, mari kuantar pulang
Ku rela malam ini hanya berteman sepi
karena pagi dengan hadirmu segalanya terobati.
Forbidden Words
Adel | Desember 2007
Akulah buruk sangka, curiga adalah aku, menuduh adalah aku, yang sakitimu juga aku.
Kita berhak sakit hati, tapi
Kita tak bisa salahkan kata, salah kita ucapkan
Kita tak bisa salahkan orang ketiga, salah kita beri kesempatan.
Aku yang salah, tak seharusnya padamu ku marah
Kita yang mulai kata dengan tawa
Kata-kata terlarang tak pernah kita undang masuk percakapan.
Masih Membaca
Putri | Desember 2008
Namamu ada di kerinduanku pada buku
ada di tiap kata juga suku kata yang kueja,
frasa-frasa menyatu menjelma namamu.
Ingin kurangkai menjadi kalimat sempurna
sehingga persahabatan kita bermakna.
Aku masih membaca, meski tanpamu
hanya hari-hari sepi tertulis dalam hidupku.
Tengadah aku di damainya sebelum Shubuh
Ayat-Mu terngiang, ku harap pagi ini tak lekas siang:
“Hendaklah di malam-malammu Tahajjud menjadi sunah
Agar Tuhanmu letakkanmu di tempat yang mulia”
Jadikanku bagian dari kesaksian malaikat-Mu
jadikan fajar ini cara terindah dimulainya hari
Ulurkan cahaya-Mu ulurkan hidayah-Mu
Dalam sujud ini ku meminta damainya hati
Lama tak sekolah, ensiklopedia tak pernah kubaca
Kuharap wali kelasku tak tahu
Karena beliau tentu marah
Lalu menjewer telingaku hingga merah
Lama tak sekolah, aku tergoda tuk kembali membaca
Entah mengapa ku begitu rindukan buku
Ada syahdu rindu juga haru-biru
Ada malu juga sesal masa lalu
Karena di tiap tahun ajaran baru
kami selalu mencipta kekurangajaran baru
Aku rindu guru Bahasa Inggrisku
Bajunya merah, senyumnya manis tak pernah marah
Ku masih berhutang senyum manis padanya
Karena ku tak pandai membaca apalagi bicara
Di depannya ku selalu kehabisan kata.
Aku rindu guru Bahasa Indonesiaku
Dia berjanji pinjamiku sebuah buku
Lalu padanya kujanjikan karya.
Aku masih penasaran nilai ujianku
Karena waktu itu selasa, ketika tahun baru tepatnya
Hingga aku lupa dan tak belajar karenanya.
Bila ku teringat dia ku kan tertawa
Karena ketika terakhir kali bicara
Bukannya membahas tata bahasa
Dia malah ajariku do’a puasa
Tapi ku paling rindu pada guru IPA
Karena cantiknya sepasti Fisika
Tapi sealami Biologi tanpa bahan Kimia
Ah sudahlah, nilai IPA-ku kan selalu 3
Hingga tiap kali bertemu ku merasa sungkan
Terlebih bila PR darinya belum kukerjakan
Lama tak sekolah, ku baru tersadar rupanya:
Sekolah tak memberiku cukup bekal hadapi dunia.
01 01 2008
Nurmala kini telah pergi
Merah di bajunya kini warna tak lagi pelangi
Nurmala kini telah pergi
Sisakan tanya, adakah di hatinya segenggam benci
. . .
Aku pinjam bukumu, juga senja
yang tertera di akhir halamannya
Bila kau berkenan, kan kupinjam malammu
agar kutenang membaca lalu menyambutmu juga shubuh,
kedamaian yang tak kurindu.
Sendiri ini selalu sepi sampai pagi
tapi beruntung ku temukanmu malam ini
Kita terpisah jarak mengangah,
tapi hangatmu pagi
hadir tanpa harus kumencari
makna di butir cahaya, juga kata
membawaku kian larut di larut malam.
Malam ini kusendiri
purnama hianati, bintang-bintang sulit ku memilih
Di hati ini kau nyaris bermalam
tapi belum terlalu malam, mari kuantar pulang
Ku rela malam ini hanya berteman sepi
karena pagi dengan hadirmu segalanya terobati.
DD, 12 Desember 2006

Komentar Terakhir